July 20, 2021 By eglima.org 0

Hadits Tentang Syarat, Niat, Acara Aqiqah Akikah Anak Lelaki Laki laki

Hadits Tentang Syarat, Niat, Acara Aqiqah Akikah Anak Lelaki Laki laki

Ucapan Selamat untuk Bayi yang Baru Lahir:

Baarokallohulaka fiil mauhuubilaka, wa syakartal waahiba, wa balagho asyuddahu, wa ruziqta birrohu

“Semoga Alloh memberi tambahan keberkahan untuk dirimu atas (karunia) yg diberikan kepadamu. Semoga engkau mensyukuri Yang Maha Memberi sampai sang anak menjadi dewasa dan menjadi anak yang berbakti”

Kemudian Dijawab :(atas orang yang mengucapkan doa di atas kepada kita)
Baarokallohulaka wa baaroka’alaika, wa jazaakallohu khoiron, wa rozaqokallohu mitslahu, wa ajzala tsawaabaka

“Semoga Alloh memberi tambahan berkahnya kepadamu dan didalam segala yang engkau miliki. Semoga Alloh membalas untukmu kebaikan yang banyak dan memberi tambahan (karunia) yang serupa kepadamu. Semoga Alloh pun rela melipat gandakan pahalamu”

Hadits Tentang Syarat, Niat, Acara Aqiqah Akikah Anak Lelaki Laki laki
Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin dalil melaksanakan aqiqah

Aku berlindung untuk anak ini bersama dengan kata-kata Allah Yang Sempurna dari segala masalah syaitan dan masalah binatang dan juga masalah sorotan mata yang sanggup mempunyai akibat buruk bagi apa yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Makna ‘AqiqahSecara bahasa ‘aqiqah berarti memutus. Sedangkan secara istilah Syara’ aqiqah berarti menyembelih kambing untuk anak terhadap hari ke tujuh dari hari kelahirannya. Pentingnya Aqiqah Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya anak itu diaqiqahi. Maka tumpahkanlah darah baginya dan jauhkanlah penyakit daripadanya (dengan mencukurnya).” (Shahih riwayat Bukhari, dari Salman Bin Amar Adh-Dhabi).
Rasulullah saw. bersabda:
“Setiap anak itu digadaikan bersama dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan (binatang) terhadap hari ke tujuh dari hari kelahirannya, diberi nama terhadap hari itu dan dicukur kepalanya”. (Ashhabus-Sunan).

‘Aqiqah adalah isyarat syukur kami kepada Allah SWT atas nikmat anak yang diberikan-Nya. Juga sebagai washilah (sarana) memohon kepada Allah SWT. sehingga menjaga dan memelihara sang bayi. Dari hadits di atas pula ulama menjelaskan bahwa hukum aqiqah adalah sunnah muakkadah (sunnah yang terlampau dianjurkan) bagi para wali bayi yang mampu, apalagi selamanya dianjurkan, sekalipun wali bayi didalam keadaan sulit.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan didalam AqiqahKambing yang dapat di sembelih meraih umur sedikitnya satu tahun dan sehat tanpa cacat sebagaimana kriteria untuk hewan qurban. Jika bayi yang dilahirkan laki-laki, disarankan untuk menyembelih dua ekor kambing yang sebanding (sama besarnya), tetapi bayi perempuan disembelihkan satu ekor kambing Aqiqah murah Jakarta .

Hal ini berdasar atas hadits dari Ummu Kurz al-Ka’biyah, Rasulullah bersabda:
“Bagi anak laki-laki (disembelihkan) dua ekor kambing dan bagi anak perempuan (disembelihkan) satu ekor. Dan tidak membahayakan kamu sekalian apakah (sembelihan itu) jantan atau betina” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Hal di atas berlaku untuk orang yang dikaruniai rizqi yang memadai oleh Allah SWT. Sedangkan orang yang kemampuannya terbatas, diperbolehkan untuk meng’aqiqahi anak laki-laki maupun anak perempuan bersama dengan satu ekor kambing.

Hal ini berdasar atas hadits dari Ibnu ‘Abbas r.a.:
“Bahwa Rasulullah saw. telah meng’aqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain bersama dengan satu ekor biri-biri.” (H.R. Abu Dawud),
dan termasuk riwayat dari Imam Malik:
“Abdullah bin Umar r.a. telah meng’aqiqahi anak-anaknya baik laki-laki maupun perempuan, satu kambing-satu kambing.”

Dianjurkan sehingga ‘aqiqah itu disembelih atas nama anak yang dilahirkan. Hal ini berdasarkan terhadap hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu al-Mundzir dari ‘Aisyah r.a.: Nabi saw. bersabda:
“Sembelihlah atas namanya (anak yang dilahirkan), dan ucapkanlah, ‘Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, bagi-Mu-lah dan kepada-Mu-lah ku persembahkan ‘aqiqah si Fulan ini.”

Akan tetapi, jikalau orang yang menyembelih itu telah berniat, walau tidak menjelaskan nama anak itu, maka tujuannya telah tercapai. Adapun daging aqiqah selanjutnya tidak cuman dimakan oleh keluarga sendiri, termasuk disedekahkan dan dihadiahkan. Disukai untuk berikan nama anak terhadap hari ketujuh bersama dengan memilihkannya nama-nama yang baik.

Waktu ‘Aqiqah Di wajah telah dikutipkan sebuah hadits yang membuktikan bahwa selagi yang disarankan untuk laksanakan ‘aqiqah adalah hari ketujuh.
Hadits lain yang menguatkan hal itu pada lain adalah hadits Abdillah bin Wahb dari ‘Aisyah r.a.: Rasulullah saw. telah meng’aqiqahi Hasan dan Husain terhadap hari ketujuh (dari kelahiran mereka), menamakan mereka dan memerintahkan untuk menghindari penyakit dari kepala (mencukur) mereka. Akan tetapi, ada pendapat yang membuktikan bahwa keterikatan bersama dengan hari ketujuh itu bukanlah keharusan, melainkan suatu anjuran.

Al-Maimuni berkata: Aku menanyakan terhadap Abdullah: “Kapankah anak itu di’aqiqahi?”. Abdullah menjawab, “Adapun ‘Aisyah telah menjelaskan bahwa ‘aqiqah itu dijalankan terhadap hari ketujuh, hari keempat belas, atau hari ke duapuluh satu.”

Imam Malik berkata: Pada zhahirnya, keterikatan terhadap hari ketujuh itu adalah atas dasar anjuran. Andaikan (pada hari itu tidak sanggup dilakukan), maka menyembelih terhadap hari keempat, kedelapan, atau kesepuluh atau sesudahnya, ‘aqiqah itu telah cukup.

Ringkasnya, jikalau orang tua sanggup menyembelih ‘aqiqah terhadap hari ketujuh, maka hal itu lebih utama, cocok bersama dengan kelakuan Nabi saw. Namun jikalau hal itu menyulitkan, maka diperbolehkan untuk melakukannya terhadap hari ke berapa saja sebagaimana telah dikatakan Imam Malik. Wallahu a’lam.